Alam pikiran seniman
On art and literature; viewpoint of Popo Iskandar, Indonesian painter.
Profil penulis
131 karya publik ditemukan.
On art and literature; viewpoint of Popo Iskandar, Indonesian painter.
Biographies of prominent Islamic figures in Indonesia.
“PENERAPAN TEKNOLOGI PENGOLAH CITRA DAN FISIKA PADA BIDANG TEKSTIL”. Buku ini ditulis dengan tujuan sebagai buku referensi mengenai penerapan fisika dan pengolahan citra digital untuk bidang tekstil yang dapat dengan mudah dimengerti dan dipahami bagi kalangan pembaca, khususnya bagi akademisi dan praktisi tekstil di industri.
Poverty analysis based on the indicators of National Population and Family Planning Board and Central Board of Statistics and the development of poverty alleviation strategy through demographic and socioeconomic characteristics, as well as the empowerment of family welfare in Bogor, Indonesia.
Biography of Syeh Jangkung, an Indonesian ulama.
Pranoto Iskandar adalah Direktur Pendiri the Institute for Migrant Rights, sebuah inisiatif non-pemerintahan yang bergerak dalam promosi dan advokasi hak-hak migran melalui pemanfaatan mekanisme-mekanisme hukum internasional, Cianjur, yang berdiri sejak 2007 dengan co-sponsorship dari the American Society of International Law (ASIL). Beberapa publikasi lainnya meliputi: Memahami Hukum di Indonesia: Sebuah Korelasi antara Politik, Filsafat dan Globallisasi (2011); Hukum Internasional Kontemporer (2006); (editor) Diskursus HAM IMR (2012), Standar Internasional Migrasi Berbasis Ketenagakerjaan, dan Islam, Terrorisme, dan Neo-Imperialisme: Perspektif Hukum Nasional dan Internasional (2003); (penerjemah) Satu Bumi: Etika bagi Era Globalisasi oleh Peter Singer (2012); Globalisasi Yes! oleh Jagdish Bhagwati.
Kehadiran buku ini, sebagaimana buku maupun tulisan lainnya yang memberikan kritik terhadap pengertian, pemahaman, dan penegakan hukum di Indonesia, bertujuan ingin merespons agedium yang lazim kita dengar seputar urusan hukum seperti KUHP (kasih uang habis perkara) yang hingga kini marak di tengah-tengah masyarakat. Tembok Fiat Justitia Ruat Coelum seolah hanya milik segelintir orang atau masyarakat tertentu saja dengan dalih penegakan hukum dan kepastian dengan menggadaikan keadilan, kerap dijadikan payung bagi aparat penegak hukum yang disebut sebagai integritas criminal justice system, untuk melakukan Arisyah sehingga kasus yang ditangani menjadi Cosa Nostra.