Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

3 hasil
Subjek: Tarekat
DaftarKartu
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Manajemen Pembelajaran Keagamaan dalam Tarekat Syattariyah di Surau Parak Laweh Pariangan

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji manajemen pembelajaran keagamaan dalam Tarekat Syattariyah di Surau Parak Laweh Pariangan. Tarekat Syattariyah, sebagai salah satu ajaran tasawuf di Indonesia, memiliki peran signifikan dalam pengembangan spiritual dan moral masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan fenomenologis, melibatkan wawancara, observasi, dan dokumentasi untuk mendapatkan data yang mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan pembelajaran dalam Tarekat Syattariyah tidak bersifat formal, melainkan dilakukan secara lisan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Proses ini dimulai dengan bai'at, di mana calon murid berkomitmen untuk mengikuti bimbingan mursyid. Pendidikan di Surau Parak Laweh mencakup berbagai praktik spiritual, termasuk dzikir, shalat 40 hari, dan suluk, yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dan menyucikan jiwa. Pelaksanaan pendidikan bersifat holistik, meliputi pembinaan akidah, akhlak, dan pemberdayaan masyarakat. Evaluasi dalam tarekat ini dilakukan secara personal oleh mursyid, yang mengamati perubahan sikap dan perilaku murid. Indikator keberhasilan meliputi konsistensi dalam beribadah dan pengembangan karakter yang baik. Dampak dari pendidikan ini terlihat pada peningkatan keimanan, pembentukan akhlak mulia, dan penguatan solidaritas sosial di antara anggota. Tarekat Syattariyah di Pariangan juga berfungsi sebagai penggerak perubahan spiritual dan sosial, membentuk individu yang saleh dan berdaya guna. Penelitian ini diharapkan menjadi referensi bagi pengembangan pendidikan tarekat dan pelestarian tradisi keagamaan di Indonesia. Dengan demikian, manajemen pembelajaran dalam Tarekat Syattariyah dapat memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan spiritual dan sosial masyarakat setempat. Penemuan ini menunjukkan pentingnya integrasi antara pendidikan formal dan nilai-nilai spiritual dalam konteks masyarakat yang lebih luas, serta memberikan wawasan mendalam mengenai praktik spiritual dalam kehidupan sehari-hari.

4 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

penetapan awal Ramadhan 1445 H/ 2024 M menurut tarekat Syattariyah (Studi kasus di Nagari Padang Magek dan di Nagari Malalo)

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Suci Khairani, NIM 2130201075 judul skripsi “ Perbedaan penetapan awal Ramadhan 1445 H / 2024 M menurut tarekat Syattariyah ( studi kasus di Nagari Padang Magek dan di Nagari Malalo). Program studi Hukum Keluarga (Ahwal Al Syakhshiyyah) Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar Tahun 2025. Penelitian ini membahas tentang perbedaan penetapan awal ramadhan oleh jamaah tarekat syattariyah yang terdapat di Nagari Padang Magek dan di Nagari Malalo baik itu dari segi metodenya maupun factor lain yang menyebabkan terjadinya perbedaan. Tujuan melakukan penelitian ini untuk mengetahui metode mana yang lebih relevan dari kedua jamaah tarekat syattariyah tersebut. Jenis penelitian ini adalah Jenis penelitian yang digunakan di dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif atau yang disebut dengan penelitian lapangan (field reseaech). Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan penelitiian deskriptif kualitatif, yakni pendekatan yang tepat untuk menggambarkan fenomena sosial atau budaya yang kompleks, seperti perbedaan praktik keagamaan dalam tarekat. Peneliti berfokus pada deskripsi mendalam untuk memberikan pemahaman yang utuh dan kontekstual. Hasil dari penelitian ini ditemukan: pertama, metode yang digunakan oleh jamaah tarekat syattariyah ini sudah kurang relevan, seperti jamaah tarekat syattariyah yang ternyata pada penetapan awal ramadhan tahun 2024 telah melihat hilal sebelum jadwal hisab yang mereka pakai untuk melihat hilal. Kedua, seiring berjalannya waktu ternyata yang awalnya mereka memiliki guru yang sama akhirnya mereka memiliki guru besar yang berbeda-beda. Ketiga, tempat mereka melihat hilal juga menyebabkan perbedaan yang mendasar. Jika dilihat dari hukum menentukan awal ramadhan itu lebih didahulukan untuk melakukan rukyatulhilal dibandingkan dengan menggunakan hisab tersebut.

3 dilihat · 2 unduhanSitasiDetail