Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

2 hasil
Subjek: Reinterpretasi
DaftarKartu
ThesisOpen AccessPDF tersedia

Reinterpretasi Maslahah Terhadap Hak Perempuan Dalam Keputusan Penundaan Pernikahan: Studi Kasus di Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Suci Humairoh, NIM.2230201048 Judul Skripsi: Reinterpretasi Maṣlaḥah terhadap Hak Perempuan dalam Keputusan Penundaan Pernikahan: Studi Kasus di Nagari Baringin Kecamatan Lima Kaum Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Al Syakhsiyah) Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar 2026. Penelitian ini berangkat dari fenomena semakin meningkatnya keputusan perempuan untuk menunda pernikahan sebagai bagian dari strategi mencapai tujuan pendidikan, karier, kemandirian ekonomi, dan kesiapan psikologis dalam membangun keluarga. Dalam konteks tersebut, penting untuk mengkaji bagaimana pengetahuan, pertimbangan, serta pemaknaan perempuan terhadap kemaslahatan hidup memengaruhi keputusan penundaan pernikahan, sekaligus menelaah kembali konsep maṣlaḥah agar lebih responsif terhadap pengakuan hak dan agensi perempuan dalam menentukan pilihan hidupnya. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan (Field Research) pendekatan kualitatif. Sumber data primer dalam penelitian ini adalah sepuluh orang perempuan yang menunda pernikahan. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara. Teknik analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Teknik penjaminan keabsahan data yang digunakan adalah tiangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertama, pengetahuan dan pertimbangan perempuan dalam menunda pernikahan di Nagari Baringin dibentuk oleh berbagai faktor, yaitu pendidikan, kesiapan ekonomi, pengembangan karier, kesiapan psikologis, serta pengalaman sosial yang mereka peroleh dari lingkungan keluarga dan masyarakat. Faktor-faktor tersebut melahirkan pemaknaan bahwa pernikahan idealnya dilaksanakan ketika seseorang telah memiliki kesiapan yang memadai untuk menjalankan hak dan kewajiban dalam rumah tangga. Penundaan pernikahan bukan merupakan bentuk penolakan terhadap institusi perkawinan, melainkan strategi untuk mencapai kemaslahatan hidup yang lebih luas. Kedua, penelitian ini menghasilkan reinterpretasi terhadap konsep maslahah dengan menempatkan hak dan agensi perempuan sebagai bagian dari pertimbangan kemashlatan dalam keputusan penundaan pernikahan. Dalam reinterpretasi tersebut, kemashlatan tidak lagi dipahami semata-mata sebagai terlaksananya perkawinan, melainkan sebagai upaya mewujudkan tujuan-tujuan syariat (maqasid al-syari'ah), khususnya dalam menjaga jiwa (hifz an-nafs), akal (hifz al-'aql), dan harta (hifz al-mal) melalui kesiapan psikologis, ekonomi dan sosial perempuan. Oleh karena itu, keputusan menunda pernikahan dapat dipandang sebagai bentuk ikhtiar yang maslahat sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat dan tidak menimbulkan mudarat yang lebih besar.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessPDF tersedia

REINTERPRETASI AYAT AL-QUR`AN TENTANG KEPEMIMPINAN LAKI-LAKI DENGAN PENDEKATAN HERMENEUTIKA FARID ESACK

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

SARA AYUSTI, NIM 2130301038. Judul skripsi: “Reinterpretasi Ayat-Ayat al-Qur`an tentang Kepemimpinan Laki-Laki dengan Pendekatan Hermeneutika Farid Esack”. Program Studi Ilmu al-Qur`an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar. Skripsi ini membahas ayat-ayat al-Qur`an yang kerap dijadikan dasar untuk mengukuhkan kepemimpinan laki-laki, khususnya Q.S. al-Baqarah [2]: 228 dan Q.S. an-Nisa [4]: 34. Dengan pendekatan hermeneutika pembebasan Farid Esack, kedua ayat tersebut ditafsirkan ulang secara utuh dan kontekstual untuk memahami makna darajah dan qawwām secara adil. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji ulang penafsiran yang cenderung patriarkal dan menawarkan pembacaan baru yang membebaskan, kontekstual, serta selaras dengan prinsip keadilan universal al-Qur`an. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan hermeneutika pembebasan Farid Esack dan disajikan dalam bentuk deskriptif-analitis serta menggunakan metode penafsiran maudhui’i. Sumber utama dalam penelitian ini adalah dua karya Farid Esack Qur’an, Liberation & Pluralism: An Islamic Perspective of Interreligious Solidarity Against serta sumber sekundernya mencakup beberapa kitab-kitab tafsir dan penelitian lainnya yang terkait dengan topik penelitian peneliti. Hermeneutika Farid Esack dibangun di atas kesadaran keadilan dan pembebasan, menjadikan al-Qur`an bukan sekadar teks normatif, melainkan sumber ilahiah yang harus menjawab realitas ketimpangan sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, darajah dalam Q.S. al-Baqarah [2]: 228 mengarah pada beban hukum dan sosial, bukan kelebihan eksistensial; begitu pula qawwām pada Q.S. an-Nisā’ [4]: 34 dipahami sebagai amanah tanggung jawab finansial, spiritual, dan etis, bukan superioritas kodrati laki-laki. Keduanya berada dalam relasi domestik, bukan publik, sehingga tidak dapat dijadikan dasar pelarangan kepemimpinan perempuan di ruang sosial. Memaknai laki-laki sebagai penguasa tunggal dalam keluarga justru melanggengkan patriarki dan toxic masculinity yang merugikan kedua belah pihak. Hermeneutika pembebasan Esack menawarkan pendekatan tafsir yang kritis dan kontekstual, membuka ruang bagi suara-suara terpinggirkan, menjembatani prinsip Islam dengan keadilan gender, serta merespons dinamika sosial secara relevan dan etis.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail