Lewati ke konten utama
Beranda / Hasil pencarian

Hasil pencarian

Jelajahi seluruh publikasi yang tersedia.

130 hasil
Subjek: Marriage
DaftarKartu
ThesisOpen AccessMetadata saja

Dinamika Kehidupan Rumah Tangga Pasangan Long Distance Marriage dan Implikasinya Terhadap Keharmonisan Keluarga (Studi Kasus di Kecamatan Canduang Kabupaten Agam)

2026•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Tri Yulia Chania, NIM.2130201079 Judul skripsi “Dinamika Kehidupan Rumah Tangga Pasangan Long Distance Marriage dan Implikasinya Terhadap Keharmonisan Keluarga (Studi Kasus di Kecamatan Canduang Kabupaten Agam)” Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhshiyyah), Fakultas Syariah, Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar. Fokus utama penelitian ini adalah mengidentifikasi dan menganalisis bagaimana pemenuhan hak dan kebutuhan pasangan mempengaruhi keharmonisan rumah tangga pasangan LDM. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemenuhan hak dan pelaksanaan kewajiban suami istri pada pasangan LDM di Kecamatan Canduang Kabupaten Agam, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaan hak dan kewajiban yang berdampak pada keharmonisan keluarga. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian yuridis empiris dengan metode kualitatif. Sumber data dari penelitian ini adalah pasangan suami istri yang menjalani LDM dan anggota keluarga dari pasangan yang menjalani LDM. Teknis analisis data dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa pemenuhan hak dan kewajiban suami istri pada pasangan LDM tetap dijalankan, antara lain melalui suami tetap menjalankan perannya sebagai kepala keluarga melalui pemberian nafkah lahir, pemberian nafkah batin (perhatian & kasih sayang), kepemimpinan dan pengambilan keputusan melalui musyawarah, membimbing dan memberi rasa aman. dan kewajiban istri (sekaligus hak suami), istri menjalankan tanggung jawab mengelola rumah tangga dan anak, istri memikul beban ganda (double burden), menjaga kesetiaan dan kehormatan, ketaatan dan pelayanan, komunikasi terbuka. Faktor pendukung mencakup komitmen dan kesepakatan bersama, rasa saling percaya (trust), pemanfaatan teknologi komunikasi, dukungan keluarga besar, pemahaman agama yang baik. Sedangkan faktor penghambat utama meliputi keterbatasan pemenuhan nafkah batin secara fisik, kesibukan pekerjaan dan aktivitas, beban ganda istri (double burden), ketidakstabilan emosi dan tekanan psikologis, kendala teknis (jaringan dan sinyal) sehingga pasangan perlu memahami dan menyesuaikan pola komunikasi mereka untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangga dalam kondisi jarak jauh.

3 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

Fenomena Komunikasi Long Distance Marriage Pada Pasangan yang Bekerja di UIN Mahmud Yunus Batusangkar

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Mutiara Lorenza. NIM 2130302039. Judul Skripsi: “Fenomena Komunikasi Long Distance Marriage Pada Pasangan yang Bekerja di UIN Mahmud Yunus Batusangkar”. Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar tahun 2025. Pokok permasalahan dalam skripsi ini adalah aktivitas komunikasi pada pasangan Long Distance Marriage yang Bekerja di UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Skripsi ini membahas mengenai Fenomena Komunikasi Long Distance Marriage, dengan fokus penelitian di UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Tujuan pembahasan ini adalah untuk mengetahui proses komunikasi yang terjalin saat Long Distance Marriage pada pasangan yang bekerja di UIN Mahmud Yunus Batusangkar, serta manajemen yang dilakukan oleh pasangan Long Distance Marriage Pada Pasangan yang Bekerja di UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, karena melihat fenomena yang terjadi di lapangan. Teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data pada penelitian ini adalah pasangan Long Distance Marriage yang bekerja di UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dan verifikasi. Untuk mengecek keabsahan data peneliti menggunakan triangulasi sumber. Dari penelitian yang peneliti lakukan di lapangan, peneliti menggunakan teori komunikasi interpersonal (DeVito, 2013) dapat disimpulkan bahwa proses komunikasi yang terjalin saat Long Distance Marriage pada pasangan yang bekerja di UIN Mahmud Yunus Batusangkar terdapat lima proses komunikasi yaitu, pertama, penggunaan teknologi. Kedua, penjadwalan komunikasi. Ketiga, transparansi dan kejujuran. Keempat, mengatasi tantangan emosional. Terakhir, perencanaan pertemuan. Adapun manajemen komunikasi yang di lakukan oleh pasangan Long Distance Marriage pada pasangan berkerja di UIN Mahmud Yunus Batusangkar, yang pertama mendiskusikan apabila ada konflik yang terjadi. Kedua, merayakan hari bersejarah bersama pasangan Long Distance Marriage. Ketiga, saling berbagi cerita di waktu malam hari. Keempat, menetapkan tujuan Bersama. Terakhir, evaluasi dan penyesuaian. Selanjutnya pasangan Long Distance Marriage yang bekerja di UIN Mahmud Yunus Batusangkar menghadapi berbagai kendala, seperti keterbatasan waktu, komunikasi, dan kelelahan dalam berkomunikasi. Adapun dalam menghadapi tantangan seperti, keseimbangan kerja dan kehidupan, dukungan emosional, dan pengembangan karir.

2 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
ThesisOpen AccessMetadata saja

ANTIMARRIAGE: Studi Tentang Komunitas Tuna Asmara di Media Sosial

2025•Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Latifa Munawaroh, NIM 2130201042 judul skripsi “ANTIMARRIAGE: Studi Tentang Komunitas Tuna Asmara di Media Sosial”. Program Studi Hukum Keluarga (Ahwal Al-Syakhsiyyah) Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar. Secara alami, manusia diciptakan berpasang-pasangan, sehingga pernikahan berfungsi untuk menjaga ketertiban sosial sekaligus menyalurkan hasrat secara sah. Namun dengan munculnya fenomena sosial terkait sikap antimarriage, terdapat perilaku penolakan terhadap institusi pernikahan. Sementara itu kebutuhan biologis merupakan kebutuhan dasar atau fitrah manusia, ini menjadi kebutuhan yang berlaku universal serta diakui oleh teori dan ajaran agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan menganalisisnya dengan hukum keluarga. Adapun pertanyaan penelitian, yaitu bagaimana bentuk percakapan tuna asmara tentang perkawinan di media sosial dan apa bentuk konten tuna asmara seputar perkawinan di media sosial. Jenis penelitian yang penulis gunakan adalah yuridis empiris dengan pendekatan pada analisis konten (analisis isi) terhadap percakapan dan konten di platform media sosial pada aplikasi TikTok, YouTube, Facebook, Threads, dan Reddit. Data dikumpulkan berdasarkan kata kunci tertentu, kemudian dianalisis untuk mengidentifikasi wacana di media sosial tentang penolakan terhadap pernikahan. Temuan penelitian ini yang pertama melihat dari banyak pasangan yang telah menikah merasa bahwa pernikahan membawanya dalam kesulitan, hanya menguntungkan sepihak, serta kekerasan terhadap pasangan. Hal ini menyebabkan sebagian individu tidak memiliki ketertarikan dalam menjalani hubungan pernikahan, sehingga memutuskan untuk tidak menikah. Mereka bahkan meyakini bahwa hidup sendiri tanpa pasangan lebih menyenangkan dan bebas dari rasa tanggung jawab. Pandangan ini semakin bertumbuh karena selalu melihat hubungan dari lingkungan sekitar. Kedua, dalam konten di media sosial, pernikahan dipandang tidak menguntungkan pria, menolak pernikahan karena enggan menanggung tanggung jawab. Bagi perempuan pernikahan sebagai bentuk penindasan patriaki dan kekerasan, perspektif terhadap pernikahan mengurangi gender wanita, menolak pernikahan karena tidak percaya pada konsep pernikahan. Pada akhirnya penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat ancaman terhadap hukum keluarga yang ditunjukkan melalui perilaku antimarriage berupa penolakan dan penetangan terhadap institusi pernikahan dengan alasan pernikahan dianggap hanya menguntungkan sepihak.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

The Quranic Concept of Nikah (Wedlock) Versus Religious Prostitution

2018•Koleksi Perpustakaan

As the name suggests, this publication primarily deals with wedlock [Nikah] ordained by the Qur'an and fornication / adultery permissible under the forged concept of Mut'ah, but it also encompasses the intellectual bankruptcy of the clerical elite, who devised ways and means to bypass the crystal clear injunctions of Allah's last revelation. This form of deviation falls under the concept of academic whoring and throughout the Muslim history, especially during the reigns of caliphs and kings, the alleged academicians had been acting as their harlots and prostituting their professional talents for personal gains. It is a shame to admit that the constitution implemented by Mohammad and his steadfast companions for the establishment of a peaceful society, is nowhere to be found. The same chronic ruling autocrats, despotic dictators and heads of bogus democracies are entrenched in the Muslim world and 1.35 billion Muslims are nothing more than a gigantic herd of sheep. This state of affairs is responsible for the deplorable situation the Ummah finds itself locked in. They are facing worst humiliation in all areas of conflict, like Palestine, Kashmir, Chechnya, Iraq, Afghanistan, Malaysia, etc. The Muslim blood is the cheapest commodity on the planet and its letting is continuing brazenly. Here a disturbing question comes to mind, how the followers of Mohammad, one of the most successful Messengers of Allah, in his own time, reached this degradation within a span of fourteen centuries? The answer is very simple; a progressive succession of conspiracies, most of which originated in Iran, completely demolished the real Quranic system that, once guaranteed personal freedom, immediate justice, social equality, equal opportunity and complete security for every member of the society.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail
BookOpen AccessMetadata saja

Marital Satisfaction and Cultural Integration of Cross-cultural Couples

2018•Koleksi Perpustakaan

This research aimed to study the relationship between level of marital satisfaction and cultural integration of Indonesian women who married to Korean men, who are at the time of research living in South Korea. Marital satisfaction is examined based on couples' conjugal life and three aspects (Korean language fluency, socialization, and living adjustment) are used to examine cultural integration. Result indicated that, demographically, respondents were varied in their province of origin in Indonesia. Most of them were in their thirties, high school degree holder, and mothers of primary school aged children. Two third of respondents were not merely housewives, none of them met their husband through marriage broker like other marriage migrant from Southeast Asia countries. In fact, most of respondents met their Korean husband in Indonesia through individual meeting. Marital satisfaction of respondents based on their conjugal life is considered high as well as their integration into the society in terms of the ability of speaking Korean and socialization. Overall, the level of integration is up to medium level. The examination leads to the result that most respondents are satisfied with their marriage and also well-integrate into Korean society. However, level of satisfaction on marriage life is not a direct factor to determine the level of integration. The most important factor actually come from respondents themselves, that is their eager will to integrate into Korean society. This explained why in the study we found respondents with high level satisfaction on her marriage but could not speak Korean well, less interact with Korean people and respondents who are very unsatisfied with her marriage but speak Korean very good, have many Korean friends. The eager will is supported by respondents' independence. They have freedom to do many things besides housework and could utilize that freedom well. This freedom is likely provided by their Korean husbands who do not restrict their foreign wives from self-actualization.

1 dilihat · 0 unduhanSitasiDetail