Abstrak
Aku terkesiap. Menatap mata sendunya yang terlihat serius. Oke, pasti ini masalah yang serius. “Erly…” Dia memanggil namaku. Aku sedikit gemetar. Jantungku berdebar dengan hati yang berdesir. Jangan lupakan dengan keringat yang mulai membasahi tubuhku. Apa mungkin Rey akan...? “Erly, apa kau tahu? Fasya mau menjadi kekasihku.” Detik itu juga seluruh tubuhku melemas. Mungkin, jika aku tak duduk, aku akan jatuh ke tanah. Bahkan, aku sudah menjatuhkan sendok yang tadi kupegang. Fasya. Dia satu angkatan dengan kami, hanya saja berbeda kelas. Rey pernah mengatakan bahwa ia tertarik pada gadis itu. Namun, dengan bodohnya aku mengabaikan hal itu dan menganggapnya sebagai angin lalu. Dan sekarang, seolah kenyataan menamparku. Menyadarkanku bahwa Rey menyukai Fasya. Rey meneriaki namaku. Namun, aku pura-pura tuli dan membisu hanya untuk menyahutinya. Aku membeku. Kekhawariranku selama ini datang. “Erly, kau ini kenapa? Erly…” Detik itu juga aku tersentak dan menatapnya. Aku tersadar dan kembali pada kenyataan yang menyakitkan. Selama ini Rey seolah menjadi kekasihku. Melindungiku, mengertiku, dan menyayangiku. Namun, sekarang aku sadar dia melakukan semuanya karena aku adalah sahabatnya. Bodohnya aku karena terlanjur mempunyai rasa yang lebih terhadapnya. “Erly…” Rey memanggilku sekali lagi. “Selamat Rey, akhirnya kau bisa menjadi kekasih Fasya.” document.getElementById('_getDocumentWindow').onclick(window);document.getElementById('_getDocumentWindow').onclick(window);