Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

Putri Alvita

2 karya publik ditemukan.

2018: 2

Teruntuk Engkau (Penerbit Pustaka Tunggal)

2018 · Book · Koleksi Perpustakaan

Cinta pertama? Entah, dari sekian pria yang kupacari, aku masih belum mengerti tentang definisi cinta sebenarnya. Setiap kali kubertanya pada mereka, selalu jawaban berbeda yang kudapatkan. Pertama kali aku melihatnya, aku tertarik. Dia, pria jakung dengan rambut ikalnya. Bando hitam yang sering di pakainya mengkilau di bawah sinar terik matahari. Dia, tidak tampan tapi cukup mempesona. Namanya, Angga Perwira, pria yang gemar memakai bando serta gelang hitam di pergelangan tangan kanannya. Tak disangka pertemuan pertama yang tak disengaja itu ternyata membawa efek. Bayangan serta lemparan senyumnya membuatku seperti orang gila. Di depan kaca jendela, kupandangi sinar bulan yang berpadu dengan gemilangnya ribuan bintang yang mengelilinginya. Kedua sudut bibirku tertarik ketika bayangannya hadir. Aku tak pernah seperti ini sebelumnya. Dari sekian pria yang singgah di hatiku, tak ada yang dengan mudahnya mengalihkan perhatianku. Butuh begitu banyak waktu, dari bulan bahkan hingga tahun. Tapi, pria bernama Angga, hanya butuh beberapa detik saja dan dia dengan mudah membuatku sekejap melupakan pekerjaanku dan justru memikirkan tentang dirinya. document.getElementById('_getDocumentWindow').onclick(window);

Rintikan Seribu Kata (Penerbit Pustaka Tunggal)

2018 · Book · Koleksi Perpustakaan

Aku terkesiap. Menatap mata sendunya yang terlihat serius. Oke, pasti ini masalah yang serius. “Erly…” Dia memanggil namaku. Aku sedikit gemetar. Jantungku berdebar dengan hati yang berdesir. Jangan lupakan dengan keringat yang mulai membasahi tubuhku. Apa mungkin Rey akan...? “Erly, apa kau tahu? Fasya mau menjadi kekasihku.” Detik itu juga seluruh tubuhku melemas. Mungkin, jika aku tak duduk, aku akan jatuh ke tanah. Bahkan, aku sudah menjatuhkan sendok yang tadi kupegang. Fasya. Dia satu angkatan dengan kami, hanya saja berbeda kelas. Rey pernah mengatakan bahwa ia tertarik pada gadis itu. Namun, dengan bodohnya aku mengabaikan hal itu dan menganggapnya sebagai angin lalu. Dan sekarang, seolah kenyataan menamparku. Menyadarkanku bahwa Rey menyukai Fasya. Rey meneriaki namaku. Namun, aku pura-pura tuli dan membisu hanya untuk menyahutinya. Aku membeku. Kekhawariranku selama ini datang. “Erly, kau ini kenapa? Erly…” Detik itu juga aku tersentak dan menatapnya. Aku tersadar dan kembali pada kenyataan yang menyakitkan. Selama ini Rey seolah menjadi kekasihku. Melindungiku, mengertiku, dan menyayangiku. Namun, sekarang aku sadar dia melakukan semuanya karena aku adalah sahabatnya. Bodohnya aku karena terlanjur mempunyai rasa yang lebih terhadapnya. “Erly…” Rey memanggilku sekali lagi. “Selamat Rey, akhirnya kau bisa menjadi kekasih Fasya.” document.getElementById('_getDocumentWindow').onclick(window);document.getElementById('_getDocumentWindow').onclick(window);