Abstrak
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh peran museum sebagai institusi budaya yang tidak hanya menyimpan koleksi, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian dan penyebarluasan warisan budaya. Museum Bustanil Arifin Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau (PDIKM) merupakan destinasi wisata budaya yang berfokus pada dokumentasi dan penyampaian informasi kebudayaan Minangkabau. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi pelindungan (safeguarding), interpretasi budaya, serta peran Museum Bustanil Arifin PDIKM dalam pelestarian kebudayaan Minangkabau. Penelitian ini menggunakan field research dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teori Interpretasi Freeman Tilden digunakan sebagai landasan teoritis dalam menganalisis interpretasi budaya, yang secara operasional dikaji menggunakan kerangka Aksan et al. (2025) melalui empat dimensi, yaitu informational accuracy, perceived authenticity, cultural engagement, dan contextual relevance. Sementara itu, safeguarding dianalisis melalui dokumentasi budaya, edukasi, transmisi nilai budaya, dan partisipasi komunitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Museum Bustanil Arifin PDIKM menjalankan fungsi safeguarding melalui dokumentasi, pendidikan, transmisi nilai budaya, dan partisipasi masyarakat. Interpretasi budaya diwujudkan melalui penyampaian informasi yang akurat, penyajian koleksi autentik, pengalaman pengunjung, serta pengaitan warisan budaya dengan kehidupan masyarakat Minangkabau masa kini. Namun, pelaksanaan safeguarding dan interpretasi budaya masih menghadapi tantangan berupa keterbatasan sumber daya manusia, regenerasi pemandu, keberlanjutan program budaya, serta keterbatasan media dan kemampuan bahasa asing. Dengan demikian, integrasi safeguarding dan interpretasi budaya memperkuat peran Museum Bustanil Arifin PDIKM sebagai destinasi wisata budaya yang berkontribusi terhadap pelestarian, pembelajaran, dan keberlanjutan warisan budaya takbenda Minangkabau.