Abstrak
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh etika kerja Islam dan budaya Minangkabau berbasis ABS-SBK terhadap kinerja sumber daya manusia pariwisata melalui mediasi serial kualitas layanan, kepuasan wisatawan, dan revisit intention. Riset dilatarbelakangi paradoks antara pengakuan internasional Sumatera Barat sebagai World's Best Halal Destination, World's Best Halal Culinary Destination dan World's Best Halal Tour Operator dengan realitas kinerja pariwisata yang stagnan, tercermin dari kunjungan wisatawan yang rendah (1,79%-1,87% wisatawan nusantara dan 0,48%-0,58% wisatawan mancanegara) dan rata-rata lama menginap tamu yang singkat (1,11-1,38 hari). Penelitian ini mengisi celah literatur: belum adanya integrasi etika kerja Islam dan budaya Minangkabau sebagai prediktor simultan dan masih terbatasnya riset SDM pariwisata berbasis nilai lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif survei dengan 340 responden wisatawan yang berasal dari luar Sumatera Barat. Instrumen dikembangkan dari sintesis Human Capital Theory, Resource-Based View, Service-Dominant Logic, Social Exchange Theory, dan Performance Theory. Analisis data menggunakan SEM-PLS dengan SmartPLS. Hasil penelitian menunjukkan: (1) Budaya Minangkabau berbasis ABS-SBK merupakan determinan paling dominan terhadap kualitas layanan (β=0,573), kepuasan wisatawan (β=0,357), dan kinerja SDM (β=0,250); (2) Etika kerja Islam berpengaruh signifikan terhadap kualitas layanan (β=0,322) namun tidak langsung terhadap kepuasan, revisit intention, dan kinerja SDM; (3) Mediasi serial kualitas layanan, kepuasan wisatawan, dan revisit intention terbukti memediasi pengaruh etika kerja Islam (β=0,015) dan budaya Minangkabau (β=0,027) terhadap kinerja SDM; (4) Model penelitian memiliki R² kinerja SDM sebesar 81,8% dan Q² 0,627 (prediktif kuat). Penelitian ini menghasilkan kontribusi teoretis berupa model kausal integratif, operasionalisasi ABS-SBK sebagai konstruk terukur, serta dimensi kepuasan spiritual dan kultural sebagai perluasan teori kepuasan wisatawan. Implikasi praktis mencakup rekomendasi kebijakan pelatihan SDM berbasis ABS-SBK, pengembangan standar kompetensi dan sertifikasi, serta integrasi nilai lokal dalam kurikulum pendidikan pariwisata.