Abstrak
Penelitian ini mengkaji ‘Ilmu Ḥuḍhūrī, ilmu yang hadir secara langsung dalam diri seseorang tanpa perantara, yang berfokus pada pemikiran Al-Ghazālī dan Mullā Ṣhadrā, yang jarang dikomparasi pada level epistemologis dan ontologis. Penelitian ini bertujuan untuk 1) mengidentifikasi konsep Ilmu Ḥuḍhūrī dalam filsafat pengetahuan, 2) dalam Filsafat Pengetahuan Al-Ghazālī dan Mullā Ṣhadrā, dan 3) mengidentifikasi persamaan dan perbedaan konsep keduanya. Penelitian ini merupakan studi kepustakaan dengan pendekatan kualitatif menggunakan desain analisis komparatif terhadap karya-karya primer Al-Ghazālī dan Mullā Ṣhadrā. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 1) Ilmu ḥuḍhūrī dalam filsafat pengetahuan menjadi dasar bagi pengetahuan tentang diri, keadaan batin, dan realitas metafisis, serta berkaitan erat antara pengetahuan, kesucian jiwa, dan kedekatan eksistensial manusia dengan Allah. Seseorang bisa merasa bahagia tanpa perlu pembuktian secara logis dengan materi. Ketika seseorang berkata “saya bahagia”, ia tidak membutuhkan dalil empiris atau rasional karena pengetahuan ini hadir langsung dalam kesadaran. 2) Ilmu Ḥuḍhūrī dalam filsafat pengetahuan Al-Ghazālī yaitu, pengetahuan yang langsung hadir tanpa perantara konsep atau indra, diperoleh melalui penyucian jiwa, dan bersifat intuitif-spiritual. Contohnya; Ketika seseorang merasa bahagia, ia tidak memerlukan penjelasan orang lain untuk mengetahui rasa tersebut. Pengalaman itu hadir secara langsung dalam dirinya, dan yang melalui penyucian jiwa bersifat intuitif-spiritual, bukan hanya melalui logika. Sedangkan Ilmu Ḥuḍhūrī menurut Mullā Ṣhadrā yaitu, pengetahuan langsung yang terjadi melalui kehadiran eksistensial objek dalam subjek, tanpa perantara representasi mental. Kesadaran manusia terhadap tindakan batinnya, seseorang mengetahui bahwa ia sedang menginginkan bahagia. Pengetahuan ini tidak diperoleh melalui indera, tetapi melalui kehadiran langsung dalam jiwa.. 3) Persamaan dan perbedaan kerangka filosofis mereka menghasilkan bahwa, Al-Ghazālī dan Mullā Ṣhadrā, sama-sama menegaskan kemungkinan pengetahuan bersifat non-representasional, artinya bentuk pengetahuannya tidak berupa konsep atau abstraksi mental, melainkan objek dalam subjek hadir secara langsung. Sedangkan perbedaannya adalah Al-Ghazali lebih menekankan pada dimensi spiritual-etis (penyucian hati, kasyf, ma‘rifah). Sedangkan Mulla Shadra lebih menekankan dimensi ontologis-eksistensial (kesatuan wujud subjek-objek).. Ini menunjukkan bahwa pengetahuan tidak hanya bersifat rasional tetapi juga transendental dan intuitif. Filsafat pengetahuan al-Ghazali dan Mulla Shadra penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan saat ini yang hanya cendrung materialistik, pengetahuan itu dianggap benar jika bisa diukur, diamati atau diuji secara materi. Kebahagiaan itu didapatkan jika seseorang memiliki uang, jabatan, serta kehidupan yang mewah lainnya..