ANALISIS REPRESENTASI SILEK DAN NILAI ADAT BUDAYA MINANGKABAU DALAM FILM MERANTAU
Ikhsan Hardiansyah, NIM 2230302028. Judul Skripsi: “Analisis Representasi Silek dan Nilai Adat Budaya Minangkabau dalam Film Merantau.” Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar. Film merupakan media komunikasi massa yang tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media representasi yang mampu membangun makna mengenai realitas sosial, budaya, dan identitas. Film Merantau (2009) karya Gareth Evans mengangkat silek dan nilai-nilai adat budaya Minangkabau sebagai unsur utama cerita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi silek dan nilai adat budaya Minangkabau dalam film Merantau menggunakan teori representasi Stuart Hall. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis semiotika budaya. Sumber data utama berupa film Merantau, sedangkan data pendukung diperoleh dari buku, jurnal ilmiah, dan penelitian terdahulu. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap adegan, dialog, ekspresi tokoh, gerak tubuh, serta unsur visual dan audio yang berkaitan dengan representasi silek dan nilai adat budaya Minangkabau. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan menggunakan teori representasi Stuart Hall melalui pendekatan Circuit of Culture, khususnya pada aspek representation dan identity. Hasil penelitian menunjukkan bahwa silek direpresentasikan tidak hanya sebagai seni bela diri tradisional, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya Minangkabau yang mencerminkan nilai keberanian, pengendalian diri, kedisiplinan, tanggung jawab, penghormatan kepada guru, dan perlindungan terhadap sesama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film Merantau tidak hanya merefleksikan budaya Minangkabau, tetapi juga mengonstruksi makna budaya tersebut sehingga memperkuat identitas budaya Minangkabau melalui media film.