Abstrak
Zahratul Khairiyah, Nim 2230306092 judul skripsi: ―Proses Penerimaan Diri Ibu yang Memiliki Anak Tunagrahita di SLB Lima Kaum”. Program Studi Psikologi Islam Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN Mahmud Yunus Batusangkar, 2026. Penelitian ini dilatar belakangi oleh kondisi ibu yang memiliki anak tunagrahita yang dapat mengalami berbagai reaksi emosional, seperti syok, sedih, kecewa, merasa bersalah, menyangkal, dan khawatir terhadap masa depan anak. Di satu sisi, kondisi tersebut dapat menimbulkan kesulitan bagi ibu dalam menerima keadaan anak, sedangkan di sisi lain ibu tetap dituntut menjalankan peran pengasuhan, mendampingi pendidikan, dan memenuhi kebutuhan anak. Perbedaan respons dan cara ibu dalam menghadapi serta memaknai kondisi anak menunjukkan bahwa proses penerimaan diri pada setiap ibu tidak berlangsung dengan cara yang sama. Kondisi tersebut penting untuk dikaji guna memahami proses psikologis yang dialami ibu dalam menghadapi dan menerima kondisi anak tunagrahita. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses penerimaan diri ibu yang memiliki anak tunagrahita di SLB Lima Kaum. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian lapangan (field research). Subjek penelitian terdiri atas enam orang ibu yang memiliki anak tunagrahita sebagai subjek primer dan enam orang subjek sekunder yang terdiri dari suami, guru, ibu kandung, dan saudara kandung subjek. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penerimaan diri ibu berlangsung melalui tiga tahapan, yaitu self-rejection, self-understanding, dan self-acceptance. Pada tahap self-rejection, ibu menunjukkan reaksi berupa syok, sedih, menangis, menyangkal kondisi anak, merasa bersalah, serta khawatir terhadap masa depan anak. Pada tahap self-understanding, ibu mulai memahami kondisi anak, mencari informasi mengenai tunagrahita, menerima dukungan dari keluarga dan lingkungan, serta berupaya memberikan pengasuhan dan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan anak. Pada tahap self-acceptance, ibu mampu menerima kondisi anak secara realistis, menyesuaikan harapan terhadap perkembangan anak, menjalankan peran pengasuhan dengan lebih positif, serta memandang pengalaman memiliki anak tunagrahita sebagai pelajaran hidup yang bermakna. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penerimaan diri merupakan proses yang dinamis dan dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, dukungan sosial, serta kemampuan ibu dalam memaknai kondisi anak.