Abstrak
Latar belakang penelitian disertasi ini berusaha meyakinkan asumsi bahwa dalam perspektif psikologi Islam hati adalah organ pikiran dan pusat kecerdasan manusia. Karena itu, secara khusus tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) bagaimana konsep kecerdasan (‘aql) dalam psikologi Islam dan hubungan fungsionalnya dengan konsep hati (qalb, fu’ad, sadr dan lubb)?; (2) bagaimana konsep kecerdasan hati dalam psikologi Islam dan pandangan ilmuan Islam Al-Ghazali, Ibnu Arabi dan Abu Talib Makki tentang fungsi hati sebagai organ kecerdasan; dan (3) apa saja indikator yang bisa digunakan untuk menggambarkan konstruk kecerdasan hati dalam psikologi Islam. (4) serta bagaimana siginifikansinya dalam mewujudkan perkembangan diri yang lebih tinggi. Penelitian ini berada di wilayah psikologis atau mental dan mencoba memahami fenomena tak kasat mata yang beroperasi dalam diri manusia, tepatnya di wilayah sekitar jantung, sehingga penelitian ini lebih bersifat sintesis kualitatif. Karena fenomena yang diteliti lebih bersifat filosofis, historis, spiritualis, dan menyangkut dimensi propetik, maka untuk mengumpulkan data-data yang diperlukan penulis lebih mengandalkan sumber data kepustakaan, yang terdiri dari Kitab Suci Al-Qur’an, Hadis Nabi, serta naskah-naskah klasik dan modern yang memuat pemikiran, penafsiran dan analisis dari sejumlah cendekiawan (ulama) yang telah diakui secara internasional kapasitas keilmuannya serta memiliki pengaruh yang membekas begitu lama. Dari proses analisis dan sintesis atas sumbersumber kepustakaan ini, maka dihasilkan sebuah konsep baru tentang kecerdasan hati dalam perspektif psikologi Islam. Hasil penelitian membuktikan bahwa psikologi Islam adalah sebuah kerangka psikologi berbasis hati, bukan berbasis otak layaknya psikologi Barat. Dalam psikologi Islam, hati ditempatkan sebagai organ sentral manusia, pusat keberadaan dan lokasi yang menjadi sumber dari semua aktivitas mental kognitif manusia. Karena daya tampung kognitifnya yang begitu besar, maka dalam psikologi Islam hati dibedakan atas empat lapisan, yaitu Sadr (Dada), Qalb (Hati), Fuad (Hati lebih dalam) dan Lubb (Intelek halus). Sejumlah ulama klasik Islam memperkuat gagasan tentang hati sebagai organ pikiran manusia dengan menempatkan hati sebagai x sentral dari ajaran yang dikembangkannya. Al-Ghazali membedakan hati atas dua pengertian, yaitu sebagai organ fisik yang memompakan darah dan sebagai organ spiritual yang menghubungkan manusia dengan Tuhan. Ibnu Arabi menempatkan hati sebagai wadah yang menampung cahaya Ilahi, sehingga orang yang selalu berusaha membersihkan hati dari noda dosa akan memiliki penglihatan batin yang tajam, mampu melihat yang tak terlihat oleh mata zahir. Abu Talib Makki menyebut hati sebagai indra, yaitu sarana yang memungkinkan perenungan dan refleksi, indra yang menembus tabir halus dan menemukan jalannya ke inti terdalam hati (suwayda') yang akan menghasilkan persekutuan langsung dengan alam yang tak kasat mata. Untuk mencapai kecerdasan hati dalam psikologi Islam ada lima indikator yang perlu dikembangkan, yaitu: kemurnian niat (purity of intention), kesabaran (patience), kebersyukuran (gratitude), refleksi (reflection), kejujuran (truthfulness). Konsep kecerdasan hati yang ditawarkan dalam disertasi ini melampaui definisi formal dalam psikologi konvensional yang lebih menekankan pada kapasitas manusia untuk melihat dunia luar, memproses informasi dan kemampuan memecahkan masalah. Sebaliknya, kecerdasan hati adalah kapasitas untuk melihat kehidupan dari dimensi yang lebih dalam, sehingga mampu memahami apa artinya menjadi manusia. Kecerdasan hati bukan tentang kemampuan bagaimana bertahan hidup, mencari uang, atau membuat karya teknologi tinggi, tetapi lebih merupakan kemampuan tentang bagaimana menjalani hidup yang lebih bermakna. Dengan demikian, kecerdasan hati tidak hanya relevan, melainkan menjadi syarat penting untuk mewujudkan perkembangan diri yang lebih tinggi, yang dalam psikologi perkembangan disebut tahap perkembangan postkonvensional atau “higher-self Development” (perkembangan diri yang lebih tinggi). Sebab, perkembangan diri yang lebih tinggi memang mengarah pada kesadaran akan makna dan tujuan hidup manusia di bumi, yakni untuk memulihkan sifat Ilahi yang lebih tinggi, yang dalam psikologi Islam disebut dengan istilah “kembali ke fitrah.” Kesimpulan penulis hati berfungsi untuk berfikir dan psikologi Islam adalah sebuah disiplin ilmu yang bertumpu pada fungsional hati dalam ajaran Islam. Fungsi hati dalam psikologi Islam lebih dari sekedar organ fisik yang memompakan darah ke seluruh tubuh, tetapi sekaligus sebagai organ pikiran dan pusat kecerdasan manusia. Karena itu, kecerdasan tertinggi dalam psikologi Islam adalah kemampuan membangkitkan dan mengakses kecerdasan hati, melampaui kecerdasan intelektual dan matematikal. Kecerdasan hati lebih mengarah pada dimensi spiritual dan etikal, yang memungkinkan seseorang untuk menjadi manusia baik dan mencapai tingkat kesucian (fitrah) yang tinggi.