Abstrak
Zayan Abiyul Usman, NIM. 2130301044 (2026). Judul skripsi “Analisis Kritis Penggunaan Artificial Intelligence dalam Studi Tafsir Al-Qur`an: Studi Kasus di Kalangan Mahasiswa Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir UIN Mahmud Yunus Batusangkar”. Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah, Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar. Perkembangan aplikasi Artificial Intelligence (AI) berbasis pemrosesan bahasa alami telah memengaruhi pola belajar mahasiswa studi keislaman, termasuk dalam kajian tafsir Al-Qur`an, dan menimbulkan persoalan epistemologis serta pedagogis ketika teknologi tersebut tidak terhubung dengan sumber tafsir otoritatif. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan pola penggunaan aplikasi Artificial Intelligence (AI) oleh mahasiswa Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir UIN Mahmud Yunus Batusangkar dalam analisis tafsir Al-Qur`an, (2) mengidentifikasi faktor pendorong penggunaannya meskipun tidak terhubung dengan sumber tafsir otoritatif, (3) menganalisis risiko akademik dan keilmuan yang ditimbulkan, serta (4) merumuskan strategi pedagogis agar pemanfaatan AI tetap etis, kritis, dan selaras dengan kaidah ilmu tafsir. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi non-partisipatif, dan dokumentasi, dengan informan sebanyak 12 mahasiswa yang dipilih secara purposive berdasarkan tingkat studi dan frekuensi penggunaan AI. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña melalui tahapan kondensasi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pola penggunaan AI oleh mahasiswa bersifat tool-oriented dan pragmatis, dengan ChatGPT sebagai aplikasi yang paling dominan karena kemudahan akses dan responsivitasnya, AI telah terintegrasi dalam rutinitas akademik mahasiswa sebagai bagian dari ekosistem belajar sehari-hari, namun digunakan tanpa pembedaan epistemologis yang tegas antara AI sebagai alat bantu teknis dan kitab tafsir sebagai sumber otoritatif, serta dengan praktik validasi yang cenderung intuitif dan non-metodologis. (2) Faktor pendorong penggunaan AI oleh mahasiswa program studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir UIN Mahmud Yunus Batusangkar meliputi efisiensi waktu, tekanan akademik, keterbatasan akses kitab tafsir, kemudahan bahasa, dan kebutuhan adaptasi terhadap tuntutan pembelajaran modern, yang menunjukkan bahwa AI digunakan sebagai strategi rasional dan adaptif, meskipun tidak selalu disertai kesadaran metodologis yang memadai. (3) Risiko akademik dan keilmuan yang ditimbulkan dari penggunaan AI tanpa verifikasi terhadap sumber tafsir otoritatif antara lain terjadinya distorsi makna ayat, pelanggaran konteks asbāb al-nuzūl, erosi metodologi tafsir, ilusi kepakaran, ketergantungan kognitif, hingga pelemahan adab tafsir sebagai sikap kehati-hatian dan tanggung jawab keilmuan. (4) Strategi pedagogis integratif merupakan solusi utama yang ditegaskan dalam penelitian ini, dengan menempatkan AI sebagai sarana bantu (musā‘adah) dalam pembelajaran tafsir, mengintegrasikannya dengan metode tafsir tradisional, memperkuat literasi epistemologis mahasiswa, serta mengembangkan regulasi dan pendampingan akademik agar pemanfaatan AI tetap etis, kritis, dan berada dalam bingkai tradisi keilmuan Islam.