Abstrak
Laila Fajriani, NIM. 2230301010, Judul Skripsi: “Jasad dalam Persektif Imron Nazar Hosein dalam Karyanya The Qur`an, Dajjal and the Jasad: Komparasi dengan Kitab Tafsir Ath-Thabari dan M. Quraish Shihab.” Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah. Universitas Islam Negeri (UIN) Mahmud Yunus Batusangkar. Penelitian ini mengkaji konsep jasad dalam Al-Qur`an dengan menitikberatkan pada pemaknaan Imran Nazar Hosein dalam karyanya The Qur’an, Dajjal and the Jasad, serta mengomparasikannya dengan penafsiran mufassir klasik Ath-Thabari dan mufassir kontemporer M. Quraish Shihab. Kajian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan orientasi dan penekanan makna jasad dalam tafsir Al-Qur`an. Mufassir klasik, seperti Ath-Thabari yang memahami jasad dalam kerangka makna literal dan historis sebagai tubuh fisik yang tidak memiliki ruh, dengan bertumpu pada riwayat, analisis kebahasaan, serta konteks turunnya ayat. Sementara itu, M. Quraish Shihab sebagai mufassir kontemporer tetap mempertahankan pendekatan kontekstual dan tekstual, namun dengan bahasa dan penjelasan yang relevan dengan realitas modern. Berbeda dari kedua mufassir tersebut, Imran Nazar Hosein menawarkan pemaknaan jasad yang lebih simbolik dan eskatologis dengan mengaitkannya pada isu Dajjal dan realitas akhir zaman. Perbedaan tersebut menimbulkan sejumlah pertanyaan metodologis terkait batas-batas penafsiran, legitimasi dalil yang digunakan, serta posisi pemaknaan Imran dalam tradisi keilmuan tafsir. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengetahui dan menjelaskan pandangan Imron Nazar Hosein mengenai makna jasad dalam Al-Qur`an, 2) mengetahui dan menjelaskan pandangan Ath-Thabari dan M. Quraish Shihab mengenai makna jasad dalam Al-Qur`an, dan 3) menganalisis persamaan dan perbedaan pemaknaan kata jasad oleh Imron Nazar Hosein, Ath-Thabari dan M. Quraish Shihab sebagai representasi dari pendekatan tafsir yang berbeda (klasik, kontemporer, dan pemikiran independen). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan pustaka (library research) dan pendekatan tematik-komparatif serta dijabarkan dengan menggunakan metode deskriptif-analitis. Teknik pengumpulan data dengan menelusuri dan membaca sumber-sumber primer (buku The Qur’an, Dajjal and the Jasad karya Imran Nazar Hosein, kitab tafsir Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur`ān karya Ath-Thabari, kitab tafsir Al-Misbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur`an karya M. Quraish Shihab) dan mengidentifikasi bagian-bagian yang membahas ayat-ayat yang memuat kata jasad dalam sumber-sumber primer tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Pandangan Imron Nazar Hosein mengenai makna jasad dalam Al-Qur`an; QS. Ṭaha [20]: 88 sebagai tubuh tanpa ruh, QS. al-Anbiyā’ [21]: 8 sebagai tubuh yang tidak memerlukan makanan dan QS. Shād [38]: 34 sebagai Dajjal. (2) Pandangan Ath-Thabari dan M. Quraish Shihab mengenai makna jasad dalam Al-Qur`an; QS. Ṭaha [20]: 88 Ath-Thabari memaknainya sebagai patung anak sapi yang tidak bernyawa, sedangkan M. Quraish Shihab memaknainya sebagai bentuk lahiriah yang menyerupai makhluk hidup namun kosong dari unsur kehidupan, QS. al-Anbiyā’ [21]: 8 Ath-Ṭabari dan M. Quraish Shihab menafsirkan ayat ini sebagai penegasan kemanusiaan para Nabi yang memiliki tubuh fisik, bernyawa, dan membutuhkan makanan, sehingga menolak anggapan bahwa para Nabi bersifat non-manusiawi dan QS. Shād [38]: 34 Ath-Thabari memahaminya sebagai setan yang menyerupai Nabi Sulaiman atau kondisi fisik beliau yang lemah, sedangkan M. Quraish Shihab menafsirkannya sebagai ujian fisik dan eksistensial yang dialami Nabi Sulaiman. (3) Secara umum, ketiga tokoh sepakat bahwa jasad merujuk pada aspek fisik suatu wujud dan digunakan secara kontekstual dalam Al-Qur`an. Perbedaannya terletak pada pendekatan penafsiran, di mana Imran Nazar Hosein menekankan simbolisme-eskatologis, Ath-Thabari bertumpu pada riwayat dan konteks historis, sedangkan M. Quraish Shihab menggunakan pendekatan kontekstual-linguistik yang menekankan nilai kemanusiaan dan pesan teologis Al-Qur`an.