Abstrak
Penelitian ini didorong oleh revolusi digital, yang telah menjadikan TikTok sebagai sumber informasi utama bagi generasi muda. Namun, karena algoritma yang disesuaikan, TikTok juga telah berubah menjadi lingkungan untuk penyebaran hoaks secara luas. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengkaji bagaimana paparan mahasiswa jurnalisme Islam di UIN Mahmud Yunus Batusangkar terhadap hoaks di TikTok berdampak pada kepercayaan publik. Mahasiswa-mahasiswa ini dipilih sebagai subjek karena signifikansi strategis mereka sebagai calon jurnalis yang memiliki nilai-nilai etika jurnalistik dan tabayyun (verifikasi). Wawancara daring mendalam dengan mahasiswa angkatan 2022–2025 dan dokumentasi berupa tangkapan layar aktivitas TikTok mereka digunakan untuk mengumpulkan data untuk pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Paradigma Miles dan Huberman, yang mencakup reduksi data, presentasi data, dan penarikan kesimpulan, digunakan untuk menganalisis data. Temuan menunjukkan bahwa paparan terhadap hoaks TikTok berdampak besar pada aspek kognitif, afektif, dan perilaku kepercayaan publik. Mahasiswa menunjukkan kemampuan yang kuat dalam mengenali informasi palsu di ranah kognitif. Paparan ini menyebabkan emosi negatif dalam dimensi afektif, termasuk kekecewaan dan kemarahan atas kualitas materi yang buruk. Mahasiswa merespons secara kritis dalam dimensi perilaku dengan melaporkan konten, menawarkan penjelasan instruksional di bagian komentar, dan menahan diri dari menyebarkan informasi yang salah. Studi ini menemukan bahwa mahasiswa jurnalisme Islam memiliki perlindungan literasi media yang baik melalui verifikasi aktif dan skeptisisme yang sehat, meskipun intensitas hoaks di TikTok sangat tinggi.