Abstrak
Pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembangunan bangsa, sehingga pengelolaan data pendidikan yang akurat menjadi kebutuhan mendasar. Salah satu instrumen penting yang digunakan pemerintah Indonesia adalah Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Sistem ini berfungsi sebagai basis data terintegrasi untuk menunjang perencanaan, penganggaran, dan evaluasi kebijakan pendidikan. Namun, implementasi Dapodik di tingkat satuan pendidikan tidak lepas dari tantangan, baik teknis maupun non-teknis, seperti keterbatasan sarana, minimnya pelatihan, serta tingginya beban kerja operator. Kondisi ini menarik untuk diteliti lebih lanjut, khususnya di SMP se-Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar. Penelitian ini difokuskan pada pelaksanaan tugas Dapodik yang meliputi pengisian dan pengiriman data, pemutakhiran data, pemeriksaan dampak data yang dientri, serta penjaminan kelengkapan, kebenaran, dan kemutakhiran data. Tujuan penelitian adalah untuk menggambarkan bagaimana proses tersebut berlangsung di lapangan, serta mengidentifikasi faktor pendukung dan kendala yang dihadapi oleh operator sekolah. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi terhadap pemahaman praktik pengelolaan data pendidikan di tingkat sekolah menengah pertama. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan operator Dapodik dan pihak sekolah terkait. Instrumen penelitian berupa pedoman wawancara dan catatan lapangan, sementara teknik analisis data mengikuti model Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan. Validitas data dijaga melalui triangulasi teknik dengan membandingkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tugas Dapodik di SMP se-Kecamatan Sungai Tarab pada umumnya berjalan efektif dan tepat waktu meskipun operator tidak memperoleh pelatihan formal dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Hal ini dapat tercapai berkat pengalaman kerja, inisiatif mandiri, serta jejaring komunikasi antaroperator yang mempermudah penyelesaian kendala teknis. Data yang dihasilkan terbukti berkontribusi positif terhadap berbagai layanan pendidikan, seperti penyaluran dana BOS, Program Indonesia Pintar, serta pengaturan administrasi sekolah. Kendati demikian, masih terdapat hambatan berupa keterbatasan sarana, tingginya beban kerja, dan kurangnya apresiasi terhadap peran operator.