Abstrak
Masalah utama pada penelitian ini adalah social anxiety pada narapidana. ditandai dengan rasa takut dan kekhawatiran dengan penilaian orang lain ketika melihat mereka dengan kasus yang dimilikinya, selain itu mereka juga sering menghindari lingkungan baru dan enggan berinteraksi dengan orang baru, dan mereka jugasering menghindari interaksi sehari-hari dengan lingkungan yang sudah dikenal. Masalah ini semakin kompleks ketika disertai dengan self stigma, yaitu mereka menerima dan mempercayai stereotip negatif yang ditujukan kepada mereka menjadi bagian dari diri mereka, sehingga hal ini membuat mereka. meragukan kelayakan mereka sebagai manusia untuk bisa berubah dan memiliki kesempatan kedua. Dengan semua kondisi tadi membuat narapidana mulai tidak berdaya dengan masa depannya, dan merasa malu dan putus asa. Kombinasi keduanya dapat memperburuk kesehatan mental narapidana, memicu depresi, menghambat partisipasi dalam program pembinaan, dan menjadi penghalang serius bagi proses rehabilitasi serta reintegrasi sosial setelah bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self stigma dengan social anxiety pada narapidana kasus pelecehan seksual terhadap anak di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bukittinggi. Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Populasi dalam penelitian ini adalah narapidana kasus perlindungan anak sebanyak 74 orang. Penelitian ini menggunakan metode total sampling, yakni seluruh populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Data dikumpulkan dengan menggunakan skala Likert yang disebarkan dalam bentuk kuesioner kepada narapidana kasus pelecehan seksual terhadap anak di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Bukittinggi. Data dalam penelitian ini dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment untuk mengetahui hubungan linear antara variabel self stigma dan social anxiety. Analisis data dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SPSS versi 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya hubungan yang sangat signifikan antara self stigma dengan social anxiety pada narapidana kasus pelecehan seksual terhadap anak di Lapas Kelas IIA Bukittinggi. Dari data yang didapatkan nilai signifikansi (2-tailed) 0,000 0,01 yang berarti bahwa terdapat hubungan yang sangat signifikan yang arahnya positif atau searah, dengan nilai koefisien korelasi kedua variabel yaitu 0,707. Hal ini menyatakan semakin tinggi self stigma maka semakin tinggi social anxiety, sebaliknya. Berarti hipotesis dalam penelitian ini (H.) di terima dan (H) ditolak. Dengan ini peneliti memperoleh hasil bahwa adanya hubungan yang sangat signifikan pada self stigma (X) dan social anxiety (Y) pada narapidana kasus pelecehan seksual.