Abstrak
Putri Nur Azizah. NIM 2130301031. Judul Skripsi: ”STUDI LIVING QUR'AN: RESEPSI MASYARAKAT JAWA DI DESA BANGUN JAYA KECAMATAN TAMBUSAI UTARA, KABUPATEN ROKAN HULU, PROVINSI RIAU TERHADAP TRADISI MALAM SATU SURO BERDASARKAN QS. AT-TAUBAH AYAT 36”. Program Studi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Latar belakang penelitian ini adalah adanya tradisi Malam Satu Suro yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa di Desa Bangun Jaya, Kecamatan Tambusai Utara, Riau. Adapun fokus penelitian ini adalah: (1) Bagaimana sejarah dan asal usul tradisi Malam Satu Suro di kalangan masyarakat Jawa di Desa Bangun Jaya? (2) Bagaimana praktik pelaksanaan tradisi Malam Satu Suro pada masyarakat Jawa di Desa Bangun Jaya? (3) Bagaimana resepsi masyarakat Jawa di Desa Bangun Jaya terhadap tradisi Malam Satu Suro berdasarkan QS. At-Taubah ayat 36? Penelitian ini adalah jenis penelitian lapangan (field research), dengan studi Living Qur’an yang mengkaji berbagai peristiwa sosial terkait dengan kehadiran Al-Qur’an di dalam suatu komunitas Muslim tertentu. Pendekatan yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Adapun sumber data primer penelitian ini adalah tokoh agama, tokoh adat, dan masyarakat Jawa yang terlibat langsung dalam tradisi. Sumber data sekunder meliputi dokumen tertulis, buku, artikel ilmiah, dan penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa: (1) Sejarah tradisi Malam Satu Suro di Desa Bangun Jaya dimulai sejak masa transmigrasi tahun 1982–1983, dibawa oleh para sesepuh Jawa. Tradisi ini bertujuan untuk menyambut Tahun Baru Islam (1 Muharram) dan memohon keselamatan. Seiring waktu, tradisi ini mengalami akulturasi dengan ajaran Islam, di mana kegiatan seperti tahlilan dan doa bersama menjadi bagian utamanya, (2) Praktik pelaksanaannya dilakukan secara komunal setelah salat Isya, biasanya di perempatan jalan. Rangkaiannya meliputi doa bersama, pembacaan QS. At-Taubah ayat 36, tahlilan, makan bersama (gendurian), dan dimeriahkan dengan kesenian Reog Ponorogo. Makanan simbolik seperti tumpeng disajikan sebagai wujud syukur kepada Tuhan. Tradisi ini dirasakan membawa manfaat spiritual dan mempererat kekompakan sosial, (3) Resepsi masyarakat terhadap tradisi ini sangat positif dan selaras dengan nilai-nilai Islam. Mereka mengaitkan tradisi ini dengan QS. At-Taubah ayat 36, yang menjelaskan tentang bulan-bulan suci (termasuk Muharram/Suro), sebagai dasar teologis untuk memuliakan bulan tersebut dengan amalan positif seperti doa dan istighosah. Tradisi ini menjadi wujud dari Living Qur'an, di mana nilai-nilai Al-Qur'an dihayati dan diimplementasikan dalam kehidupan sosial-budaya masyarakat.