Lewati ke konten utama
Beranda / Koleksi

COLLECTION

Artikel Penelitian dan Pengabdian

Koleksi otomatis dari Artikel

841 item publik

Publikasi

Halaman 2 dari 43

MANAJEMEN PIMPINAN PONDOK PESANTREN DALAM MENGEMBANGKAN KEGIATAN EKTRAKURIKULER PADA PESANTREN THAWALIB GUNUNG PADANG PANJANG

RAHMAWATI
2020 · Article · Open Access

RAHMAWATI, NIM. MPI. 11. 066. Judul Tesis: “ Manajemen Pimpinan Pondok Pesantren dalam Mengembangkan Kegiatan Ektrakurikuler pada Pesantren Thawalib Gunung Padang Panjang”. Program Studi Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Batusangkar. Menajemen ekstrakurikuler adalah cara mengelola kegiatan ekstrakurikuler di sekolah sebagai wadah bagi pengembangan bakat dan minta siswa. Pondok Pesantren Thawalib Gunung melaksanakan ekstrakurikuler dengan kegiatan yang beragam, meskipun belum didukung oleh fasilitas yang memadai. Hal ini tidak terlepas dari menajemen ekstrakurikuler di pondok pesantren tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana manajemen pimpinan pondok pesantren Thawalib Gunung Padang Panjang dalam mengelola kegiatan ekstrakurikulernya bisa berjalan dengan baik bahkan bisa berperestasi ditingkat kabupaten, propinsi dan tingkat nasional. Jenis penelitian ini adalah peneltian kualitatif dengan rancangan studi kasus. Dalam pengumpulan data, peneliti melakukan kegiatan observasi, wawancara secara langsung dan mendalam dan studi dokumentas. Sumber data dalam penelitian ini adalah Pimpinan Pesantren, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, guru, siswa dan masyarakat. Teknik yang digunakan oleh peneliti untuk menguji keabsahan data adalah teknik triangulasi.Analisis data dilakukan melalui proses (1) reduksi data, (2) penyajian data dan (3) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen pimpinan pondok pesantren dalam mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler pada Pesantren Thawalib Gunung Padang Panjang adalah menerapkan prinsip manajemen pada umunnya yang memenuhi kriteria perencanaan, pengorganisasian, kontrol dan pengawasan serta evaluasi atau yang biasa disebut POAC. Dalam penerapan menajemen ini Pimpinan Pondok Pesantren Thawalib Gunung (1) Perencanaan : merumuskan perencanaan pengelolaan ekstra kurikuler dengan melibatkan seluruh unsur struktural Pesantren dan majelis guru, (2) Pengorganisasian: dengan pengorganisasian dengan menempatkan penanggung jawab kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan, serta melibatkan siswa tingkat akhir sebagai mentor sebaya, (3) Pelaksanaan: memberikan perhatian yang sungguh-sungguh dalam pelaksanaan mulai penegakan disiplin baik untuk pengelola maupun peserta, teriintegrasi dengan tujuan pondok serta menjaga singkronisasi dengan pernecanaan yang telah ditetapkan. (4) Evaluasi: melakukan evaluasi secara bertingkat, baik evaluasi peserta maupun evaluasi secara keseluruhan yang bertujuan untuk meningkatkan mutu kegiatan dan pengembangan kegiatan secara berkelanjutan. Keberhasilan program yang direncanakan tidak terlepas dari komitmen dan keseriusan mereka dalam menjalankan kegiatan yang direncanakan. Kontrol dan evaluasi yang terus menerus sebagai prioritas utama. Oleh karena itu seluruh kegiatan yang ada berjalan dengan baik dan maksimal, meskipun minim dukungan saran dan prasarana, tetapi tetap meraih prestasi dalam berbagai kegiatan baik ditingkat kota, Provinsi dan nasional.

HADHARAH : Jurnal Keislaman dan Peradaban Volume 8 Nomor 1, Maret 2014

Devi Aisyah
2019 · Article · Open Access

Kitab al-Muzhir karya al-Suyuthiy merupakan karya monumental terbesarnya dalam kajian fiqh lughah. Jika diapresiasi secara mendalam tentunya kitab ini banyak ditemukan kelebihannya, meski juga ada kekurangannya. Adapun sisi kelebihan yang mencolok dari karya ini adalah kemampuanya menjelaskan masalah-masalah yang menjadi tema-tema sentral ulama-ulama bahasa Arab klasik sebelum masa al-Suyuthiy. Ia berhasil mengeksplorasi berbagai kitab Fiqh al-Lughah yang relevan dengan kajiannya. Dengan metode paparan yang cukup apik, al-Suyuthiy telah berhasil memberikan gambaran lengkap dan rinci tentang makna atau pengertian haqiqi dan majazi, eksistensi haqiqi dan majazi dalam bahasa Arab, perbedaan haqiqi dan majazi, serta bahasan-bahasan lain yang terkait dengan keduanya.

HADHARAH : Jurnal Keislaman dan Peradaban Volume 7 Nomor 1, Maret 2013

Devi Aisyah
2019 · Article · Open Access

Pembahasan ahli bahasa Arab tentang kalimat (jumlah; tarkib, sentence, frase) dalam bahasa Arab tidak terlepas dari polemik, khususnya dalam memberikan batasan-batasan dan termterm yang digunakan, baik di era klasik maupun modern. Polemik utamanya terkait dengan penggunaan terma kalam dan jumlah dan pengertian-nya, apakah dua terma yang sinonim atau bukan, yang kemudian berpengaruh pada unsur-unsur yang membangunnya. Tetapi pada dasarnya perbedaan mereka itu tidak substantif, melainkan lebih sebagai perdebatan teknis analisa dan bersifat parsial.

HADHARAH : Jurnal Keislaman dan Peradaban Volume 8 Nomor 2, Juli 2014

Devi Aisyah
2019 · Article · Open Access

Pembahasan mengenai qawa’id al-taujih yang masih dalam kerangka al-ihtijaj, merupakan kajian yang penting dan ‘serius’. Dikatakan penting, karena dengan mengetahui, apalagi juga memahami qawa’id al-taujih, seorang pencinta ilmu nahwu akan mengenal belantara khasanah ilmu nahwu dengan segala rincian, rambu-rambu, dan discourses yang ada padanya. Dikatakan ‘serius’, karena analisa qawa’id al-taujih ini menggunakan hampir seluruh istilah teknis dan teoritis dalam nahwu dan sharaf. Ada prinsip utama dalam Ushul al-Fiqh Islam yaitu menjadikan al-mashlahat sebagai ghayah. Dalam Ushul alNahwu, ghayah ini dinamakan al-faidah. Al-Mashlahat dalam Ushul alFiqh dirumuskan dengan ungkapan “la dharar wa la dhirar,” sedangkan al-Faidah dalam Ushul al-Nahwu diungkapkan dengan “La khata’ wa la labas”.

HADHARAH : Jurnal Keislaman dan Peradaban Volume 7 Nomor 2, Juli 2013

Devi Aisyah
2019 · Article · Open Access

semantik mengkaji tentang ‘makna’ maka perlu diketahui lebih dulu makna dari ‘makna’ itu. Salah saatu kajian penting dalam semantik adalah pembahasan tentang satuan semantik; yaitu analisis mengenai satuan makna terkecil dalam bahasa, termasuk dalam bahasa Arab. Makalah ini akan memaparkan secara garis besar telaah tentang satuan semantik ini. Satuan atau tataran bahasa (linguistik) ada empat, yaitu tataran fonologi (mempelajari dan menganalisis runtutan bunyibunyi bahasa); tataraan morfologi (mempelajari dan menganalisis seluk beluk morfem sebagai struktur internal kata); tataran sintaksis (mempelajari dan menganalisis kata dalam hubungannya dengan kata lain sebagai satu satuan ujaran); dan terakhir adalah tataran semantik (meneliti makna satuan bahasa).