Analisis Karakteristik Pseudo-Pemecahan Masalah Matematis Siswa SMA Kelas X
Kualitias berpikir pemecahan masalah yang bermakna merupakan salah satu tujuan dalam pembelajaran matematika. Namun, berdasarkan data di lapangan menunjukan bahwa siswa SMA kelas X belum sepenuhnya memiliki kemampuan yang bermakna dalam menyelesaikan soal pemecahan masalah matematis. Sehingga mengalami berpikir semu atau pseudo. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis karakteristik Pseudo-pemecahan masalah matematis siswa SMA kelas X. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan eksploratif. Subjek penelitian adalah siswa SMA kelas X SMAN 2 Padang Panjang dan SMAN 1 Batusangkar dengan jumlah 60 orang siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tes dan wawancara. Instrumen penelitian pada penelitian ini ada 2, yaitu instrumen utama adalah peneliti itu sendiri dan instrumen pendukung berupa tes soal bilangan berpangkat dan pedoman wawancara. Subjek penelitian yang terpilih untuk diwawancarai lebih mendalam adalah sebanyak 7 orang yang mewakili hasil jawaban benar dan salah. Teknik analisis data yaitu mempersiapkan data dari hasil tes, transkipsi hasil wawancara, reduksi data, pengkodean, dan penarikan kesimpulan. Teknik penjamin keabsahan data adalah triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat 3 tipe karakteristik pseudo-pemecahan masalah matematis, yaitu (1) pseudo benar tipe konseptual, yaitu siswa memahami masalah dengan baik, membuat perencanaan sesuai dengan konsep matematika, namun pada aspek ketiga dan keempat terdapat pemahaman konsep yang dangkal. (2) Pseudo benar tipe semikonseptual, yaitu siswa mengalami keraguan atau adanya skema berpikir yang tidak kompleks saat memahami masalah, namun mampu merencanakan penyelesaian dengan konsep yang sesuai. Pemahaman konsep yang dangkal terjadi pada aspek pertama, ketiga, dan keempat. (3) Pseudo salah, yaitu siswa mampu memahami masalah dengan baik, membuat perencana dan melaksanakan rencana dengan konsep matematis, namun terjadi kesalahan perhitungan sehingga mendapatkan jawaban yang tidak tepat. Akan tetapi siswa tersebut mampu memperbaiki dan memberikan justifikasi setelah diberikan refleksi.