Peran Perpustakaan Kelurahan Berbasis Inklusi Sosial dalam Upaya Peningkatan Taraf Hidup Masyarakat di Kelurahan Silaing Atas Kota Padang Panjang
Perpustakaan memiliki peran penting mencerdaskan kehidupan bangsa dan mendukung pembangunan nasional, sebagaimana diamanatkan Pada alinea keempat Pembukaan UUD 1945.. Penelitian ini berfokus pada Perpustakaan Kelurahan Silaing Atas di Kota Padang Panjang yang berstatus sebagai perpustakaan inklusi sosial, khususnya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat pasca-pandemi COVID-19. Dampak ekonomi pandemi telah menyebabkan peningkatan pengangguran dan kemiskinan, sementara sebagian masyarakat mulai beralih ke ekonomi digital. Perpustakaan Silaing Atas berusaha memaksimalkan perannya demi upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui berbagai program, seperti pelatihan bisnis dan pengembangan usaha kreatif. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif untuk menggali peran perpustakaan sebagai agen transformasi sosial dan ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan ini berhasil meningkatkan literasi dan keterampilan masyarakat, serta menyediakan akses informasi yang relevan dengan kebutuhan mereka. Program yang diselenggarakan juga berkontribusi pada pemberdayaan ekonomi, seperti melalui pelatihan dan akses ke koleksi bisnis yang dapat mendukung pengembangan usaha masyarakat. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan perpustakaan berbasis inklusi sosial di tingkat kelurahan/desa sebagai salah satu pilar penting dalam pembangunan ekonomi masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpustakaan berperan penting dalam memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Selain itu, pengadaan koleksi yang mendukung keterampilan dan pengembangan usaha turut memperkuat peran perpustakaan sebagai sumber daya dalam pembelajaran sepanjang hayat. Perpustakaan ini juga berhasil melaksanakan pelatihan keterampilan yang memberikan manfaat nyata bagi peserta, termasuk pemberdayaan ibu rumah tangga untuk meningkatkan keterampilan dan kepercayaan diri. Meskipun terdapat tantangan seperti keterbatasan sumber daya manusia dan koordinasi lapangan, pelatihan yang diselenggarakan terbukti efektif dalam meningkatkan keterampilan praktis yang aplikatif. Implikasi teoritis menunjukkan bahwa kebijakan distribusi koleksi dan pelatihan keterampilan sesuai dengan teori pemberdayaan masyarakat dan inklusi sosial. Secara praktis, hasil penelitian ini memberikan rekomendasi agar perpustakaan terus memperluas jangkauan layanan dan lebih fokus pada kualitas pelatihan untuk meningkatkan keterampilan dan pemberdayaan masyarakat, terutama ibu rumah tangga, sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.