Lewati ke konten utama
Beranda / Penulis

Profil penulis

NABAWI ASSYARIF SY

2 karya publik ditemukan.

2020: 1

Strategi Pengembangan Produk Perbankan Syariah Pada Era Rvolusi Industri 4.0 Menurut Adiwarman Azwar Karim dan Tokoh Ekonomi Syariah Lainnya di Indonesia

· Thesis · Skripsi, Thesis, Disertasi, dan Tugas Akhir

Nabawi Assyarif SY, NIM 15301100094. Judul Skripsi “Strategi Pengembangan Produk Perbankan Syariah pada Era Revolusi 4.0 Menurut Adiwarman Azwar Karim dan Tokoh Ekonomi Syariah Lainnya di Indonesia”. Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Intitut Agama Islam Negri (IAIN) Batusangkar. Pembahasan dalam skripsi ini permasalahannya adalah dewasa ini telah memasuki era revolusi 4.0. Perbankan syariah di Indonesia menghadapi tantangan yang sangat menetukan untuk perkembangannya. Tantangan untuk mengembangkan perbankan syariah diharuskan dalam mengembangkan produk-produknya pada era revolusi industri 4.0 dan untuk mengembang tersebut harus mempunyai strategi, demi bersaing dengan bank-bank lainnya. Adiwarman Azwar Karim merupakan ikon ekonomi dan keuangan syariah. Beliau bergerak di bidang akademisi ekonomi, intelektual ekonomi dan praktisi ekonomi. Dibidang akademisi seperti; beliau sering menjadi dosen tamu di Universitas Indonesia, IPB, UNAIR, ,UIN Syarif Hidayatullah ,dan lain-lain. Selanjutnya dibidang intelektual seperti; karya-karya beliau; Bank Islam: Analisis fiqh dan keuangan (Edisi Pertama, Kedua, Ketiga, Keempat dan Kelima), Ekonomi Mikro Islam (Edisi Pertama, Kedua, Ketiga, Keempat dan Kelima), serta lebih dari 50 artikel tentang ekonomi Islam yang disajikan dalam berbagai forum nasional dan internasional. Kemudian dibidang praktisi beliau menjadi founder dari Karim Consulting Indonesia (KCI), merupakan lemgaba konsultan ekonomi syariah pertama di Indonesia. Dan juga keikut sertaan beliau dalam kepengurusan badan ekonomi syariah di Indonesia. Pembahasan skripsi ini, penulis menggunakan jenis penelitian studi kepustakaan (Library Research) yang bersifat kualitatif, yaitu dengan meneliti dari karya-karaya tokoh di antaranya; buku-buku beliau, jurnal, internet dan rekaman seminarnya yang dipublis. Hasil penelitian ini yaitu bahwasanya Adiwarman Azwar Karim memberikan kebebasan untuk perbankan syariah mengembangkan produknya pada era revolusi industri 4.0. Beliau hanya memberikan batasan-batasan dalam pengembangan produk, Batasan-batasannya yang beliau berikan yaitu; Meninggalkan seluruh unsur-unsur yang dihukumi haram menurut syariat Islam, prinsip keseimbangan antara sektor riil dengan sektor keuangan, dan Prinsip proses transaksi jual-beli yang adil, tidak menguntungkan satu pihak merugikan pihak yang lain. Juga beliau memberikan strategi kunci untuk mengembangkan produk pada era revolusi 4.0. Strategi yang beliau berikan yaitu; Perbankan syariah harus memanfaatkan kesetaraan informsi untuk memperkenalkan perbankan syariah kepada masyarakat dan mempromosikannya, Perbankan syariah harus bisa memanfaatkan supply create of demand, dan dalam pengembangan produknya perbankan syariah harus berani membuat langkah pertama “first move” sehingga dapat bersaing pada era revolusi industri 4.0. Kemudian menurut tokoh ekonomi syariah lainnya, Muhammad Syafi’i Antonio, Riawan Amin dan Komaruddin Hidayatullah, memberikan startegi yang senada yaitu pemanfaatan informasi dan teknologi. Kemudian Herbudhi Setio Tomo memberikan strategi untuk pemuntakhiran fitur pelayanan. Perry Warjiyo dan Bambang Brodjonegoro memberikan strategi peng-virtualisasikan perbankan syariah. Sedangkan Oni Syahroni memberikan strategi yaitu taat terhadap prinsip-prinsip syariah. Untuk dapat melalui tantangan era revolusi industri, perbankan syariah harus memanfaatkan seluruh bidang yang telah diberikan oleh para tokoh. Pertama, perbankan syariah dapat memanfaatkan informasi dan teknologi seperti penggunaan branding media online, digitalisasi, konversi dan kesetaraan informasi untuk menyentuh masyarakat kalangan menengah ke bawah dan itu akan menumbuhkan demand. Kedua, setelah pemanfaatan informasi dan teknologi menumbuhkan demand maka perbankan syariah harus memperbaiki fitur pelayanan untuk mempermudah nasabah atau calon nasabah dan juga memberikan kenyamanan kepada nasabah atau calon nasabah, itu membuat kepuasan tersendiri bagi nasabah. Ketiga, virtualaisasi perbankan syariah percepatan layanan transaksi keuangan baik tunai maupun nontunai menggunakan teknologi memberikan kepuasan kepada nasabah, sehingga bank secara tidak langsung memberikan service kepada nasabah melalui perangkat digital secara total yang dapat lebih efisien. Keempat, era revolusi industri 4.0 memang sangat bagus untuk perkembangan perbankan syariah karena mendapatkan peluang untuk ber inovasi se-kreatif mungkin untuk menarik minat masyarakat menggunakan perbankan syariah, tetapi perbankan syariah jangan melupakan landasannya sendiri yaitu prinsip syariah supaya tidak terjerumus kepada pengembangan produk yang bersifat tidak adil. Sehingga perbankan syariah tidak kehilangan keberkahannya

Strategi Pengembangan Produk Perbankan Syariah Pada Era Rvolusi Industri 4.0 Menurut Adiwarman Azwar Karim dan Tokoh Ekonomi Syariah Lainnya di Indonesia

2020 · Book · Koleksi Perpustakaan

Nabawi Assyarif SY, NIM 15301100094. Judul Skripsi “Strategi Pengembangan Produk Perbankan Syariah pada Era Revolusi 4.0 Menurut Adiwarman Azwar Karim dan Tokoh Ekonomi Syariah Lainnya di Indonesia”. Jurusan Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Intitut Agama Islam Negri (IAIN) Batusangkar. Pembahasan dalam skripsi ini permasalahannya adalah dewasa ini telah memasuki era revolusi 4.0. Perbankan syariah di Indonesia menghadapi tantangan yang sangat menetukan untuk perkembangannya. Tantangan untuk mengembangkan perbankan syariah diharuskan dalam mengembangkan produk-produknya pada era revolusi industri 4.0 dan untuk mengembang tersebut harus mempunyai strategi, demi bersaing dengan bank-bank lainnya. Adiwarman Azwar Karim merupakan ikon ekonomi dan keuangan syariah. Beliau bergerak di bidang akademisi ekonomi, intelektual ekonomi dan praktisi ekonomi. Dibidang akademisi seperti; beliau sering menjadi dosen tamu di Universitas Indonesia, IPB, UNAIR, ,UIN Syarif Hidayatullah ,dan lain-lain. Selanjutnya dibidang intelektual seperti; karya-karya beliau; Bank Islam: Analisis fiqh dan keuangan (Edisi Pertama, Kedua, Ketiga, Keempat dan Kelima), Ekonomi Mikro Islam (Edisi Pertama, Kedua, Ketiga, Keempat dan Kelima), serta lebih dari 50 artikel tentang ekonomi Islam yang disajikan dalam berbagai forum nasional dan internasional. Kemudian dibidang praktisi beliau menjadi founder dari Karim Consulting Indonesia (KCI), merupakan lemgaba konsultan ekonomi syariah pertama di Indonesia. Dan juga keikut sertaan beliau dalam kepengurusan badan ekonomi syariah di Indonesia. Pembahasan skripsi ini, penulis menggunakan jenis penelitian studi kepustakaan (Library Research) yang bersifat kualitatif, yaitu dengan meneliti dari karya-karaya tokoh di antaranya; buku-buku beliau, jurnal, internet dan rekaman seminarnya yang dipublis. Hasil penelitian ini yaitu bahwasanya Adiwarman Azwar Karim memberikan kebebasan untuk perbankan syariah mengembangkan produknya pada era revolusi industri 4.0. Beliau hanya memberikan batasan-batasan dalam pengembangan produk, Batasan-batasannya yang beliau berikan yaitu; Meninggalkan seluruh unsur-unsur yang dihukumi haram menurut syariat Islam, prinsip keseimbangan antara sektor riil dengan sektor keuangan, dan Prinsip proses transaksi jual-beli yang adil, tidak menguntungkan satu pihak merugikan pihak yang lain. Juga beliau memberikan strategi kunci untuk mengembangkan produk pada era revolusi 4.0. Strategi yang beliau berikan yaitu; Perbankan syariah harus memanfaatkan kesetaraan informsi untuk memperkenalkan perbankan syariah kepada masyarakat dan mempromosikannya, Perbankan syariah harus bisa memanfaatkan supply create of demand, dan dalam pengembangan produknya perbankan syariah harus berani membuat langkah pertama “first move” sehingga dapat bersaing pada era revolusi industri 4.0. Kemudian menurut tokoh ekonomi syariah lainnya, Muhammad Syafi’i Antonio, Riawan Amin dan Komaruddin Hidayatullah, memberikan startegi yang senada yaitu pemanfaatan informasi dan teknologi. Kemudian Herbudhi Setio Tomo memberikan strategi untuk pemuntakhiran fitur pelayanan. Perry Warjiyo dan Bambang Brodjonegoro memberikan strategi peng-virtualisasikan perbankan syariah. Sedangkan Oni Syahroni memberikan strategi yaitu taat terhadap prinsip-prinsip syariah. Untuk dapat melalui tantangan era revolusi industri, perbankan syariah harus memanfaatkan seluruh bidang yang telah diberikan oleh para tokoh. Pertama, perbankan syariah dapat memanfaatkan informasi dan teknologi seperti penggunaan branding media online, digitalisasi, konversi dan kesetaraan informasi untuk menyentuh masyarakat kalangan menengah ke bawah dan itu akan menumbuhkan demand. Kedua, setelah pemanfaatan informasi dan teknologi menumbuhkan demand maka perbankan syariah harus memperbaiki fitur pelayanan untuk mempermudah nasabah atau calon nasabah dan juga memberikan kenyamanan kepada nasabah atau calon nasabah, itu membuat kepuasan tersendiri bagi nasabah. Ketiga, virtualaisasi perbankan syariah percepatan layanan transaksi keuangan baik tunai maupun nontunai menggunakan teknologi memberikan kepuasan kepada nasabah, sehingga bank secara tidak langsung memberikan service kepada nasabah melalui perangkat digital secara total yang dapat lebih efisien. Keempat, era revolusi industri 4.0 memang sangat bagus untuk perkembangan perbankan syariah karena mendapatkan peluang untuk ber inovasi se-kreatif mungkin untuk menarik minat masyarakat menggunakan perbankan syariah, tetapi perbankan syariah jangan melupakan landasannya sendiri yaitu prinsip syariah supaya tidak terjerumus kepada pengembangan produk yang bersifat tidak adil. Sehingga perbankan syariah tidak kehilangan keberkahannya